Lost

/ April 22, 2018

Pernah ngerasa nggak punya tujuan nggak sih?
Ngelayang sana sini pake energi keisi penuh, lari-lari agresif ke suatu tempat yang pas didatengin ternyata fatamorgana; sampe kamu cape dan ngerasa “ini apasih?” terus akhirnya mati rasa.

I understand that maybe it’s not an interesting read. But my blog has been and will always be a copy of my mind, so it says what it needs to.

Waktu kamu merasa terlalu receh, terlalu jauh di belakang, terlalu cupu untuk melanjutkan jalan remah rotimu. Dan dengan tanpa sadar kamu memupuk seluruh ketakutanmu, keragu-raguanmu. Semakin hari semakin besar, semakin hebat, semakin tau cara membuatmu mundur perlahan, atau lari kencang, tapi tanpa tujuan.
                                                                                                                
I’m getting so lost in my own mind. And it always ends up with daydreaming; I fantasize everything, I constantly making up scenarios in my head, all the time. Well actually, in reality, I don’t really know if I have done something right or not. Or have I ever done something?

I don’t know whether or not it happens to normal human being, but sometimes I just don’t recognize myself. I starting to worry myself that I'm the only person who does this.

I have so much things in mind, but it all seems too good to be true. It doesn’t feel like something real, but crap, it’s addictive, I need it more and more every day.

I try to make it, but I get lost on my way to it. A lot of things scare me. I just drag myself down then.
I start taking a step back. Or I just run. I run because sometimes that’s the only thing I know to calm myself down. Until I feel better. And then I realize that I just lengthen the distance between my current place and ‘somewhere-something I don’t know but excites me’.
And I do regret. But then I repeat. Every time.

When you really want to tell everything, but not even a proper word comes.
I am not alright.


Pernah ngerasa nggak punya tujuan nggak sih?
Ngelayang sana sini pake energi keisi penuh, lari-lari agresif ke suatu tempat yang pas didatengin ternyata fatamorgana; sampe kamu cape dan ngerasa “ini apasih?” terus akhirnya mati rasa.

I understand that maybe it’s not an interesting read. But my blog has been and will always be a copy of my mind, so it says what it needs to.

Waktu kamu merasa terlalu receh, terlalu jauh di belakang, terlalu cupu untuk melanjutkan jalan remah rotimu. Dan dengan tanpa sadar kamu memupuk seluruh ketakutanmu, keragu-raguanmu. Semakin hari semakin besar, semakin hebat, semakin tau cara membuatmu mundur perlahan, atau lari kencang, tapi tanpa tujuan.
                                                                                                                
I’m getting so lost in my own mind. And it always ends up with daydreaming; I fantasize everything, I constantly making up scenarios in my head, all the time. Well actually, in reality, I don’t really know if I have done something right or not. Or have I ever done something?

I don’t know whether or not it happens to normal human being, but sometimes I just don’t recognize myself. I starting to worry myself that I'm the only person who does this.

I have so much things in mind, but it all seems too good to be true. It doesn’t feel like something real, but crap, it’s addictive, I need it more and more every day.

I try to make it, but I get lost on my way to it. A lot of things scare me. I just drag myself down then.
I start taking a step back. Or I just run. I run because sometimes that’s the only thing I know to calm myself down. Until I feel better. And then I realize that I just lengthen the distance between my current place and ‘somewhere-something I don’t know but excites me’.
And I do regret. But then I repeat. Every time.

When you really want to tell everything, but not even a proper word comes.
I am not alright.

Continue Reading

Kalo punya waktu main di Semarang satu hari aja, bisa ngapain?
Punya slot waktu dan area main yang terbatas itu kadang greget banget. Tapi percayalah, gregetnya bakal lebih gila kalo BM-nya kesampean semua. Jadi, let’s go

Buatmu yang punya waktu jalan dan area main yang terbatas, hanya di Semarang kota-nya aja, this itinerary is made for you.

Kami ambil flight paling pagi dari Jakarta ke Semarang demi keabsahan Mandi di Jakarta – Sarapan di Semarang. Sebelum jam 7 pagi kami sudah duduk manis di dalam grab menuju Nasi Ayam Bu Nyoto.

Nasi Ayam Bu Nyoto
Kami datang duluan sebelum Bu Nyoto gelar warung. ‘Pasti ada hikmahnya’ memang benar adanya: kami bebas dari masalah cari tempat duduk. FYI, saking legendarisnya, cari kursi kosong di Nasi Ayam Bu Nyoto ini cukup PR. Pembeli yang datang mesti sabar nungguin orang lain selesai makan supaya bisa gantian duduk dan makan proper.

Setengah porsi dengan tambahan sate telur puyuh, kerupuk, dan air mineral gelas cukup 12 ribu aja

Teman saya bilang kalau nasi ayam terenak di Semarang ya Bu Nyoto ini.
Tapi menurut saya, yang bikin istimewa adalah ambience-nya itu sendiri, juga makanan yang disajikan ketika panas-panas, dan ada banyak banget pilihan lauk di depan mata yang bisa diambil cukup pake voice command, “Mbak, mau sate telur puyuh. Mas, tolong tempenya dong.”

Kota Lama Semarang
Pagi itu, Kota Lama Semarang hanya ditempuh selama 15 menitan aja dari Bu Nyoto. Kota Lama Semarang adalah kawasan bangunan tua mirip Braga di Bandung atau Kota Tua di Jakarta.
Apa yang bisa dilakuin di Kota Lama? Jalan – foto – jalan – foto – jalan, gitu aja terus sampe cape.

Untuk yang gabut dan pengen ngadem, ada 3D Trick Art Museum dan DMZ (Dream Museum Zone) di kawasan Kota Lama. Berhubung saya nggak gabut dan nggak butuh ngadem, setelah jalan keliling Kota Lama, saya duduk-duduk di depan Semarang Kreatif Galeri sambil nunggu warung kopi incaran saya buka.


Tekodeko Koffiehuis
Kedai kopi incaran saya di kawasan Kota Lama adalah Tekodeko Koffiehuis. Dari hasil ngepoin beberapa sumber terpercaya, katanya sih tempat ini ok. Masa?

 Tekodeko Koffiehouis buka jam 10.00

Kenapa namanya tekodeko?
Karena main decorationnya pake teko, jadi teko – deco.
Baiklah.


Seperti biasa, saya pesan Iced Matcha Latte dan Mitla pesan kopi beneran, Espresso dan segelas manual brewing yang entah apa namanya - lupa.


Saya nggak cerita soal kopi ya karena saya nggak minum kopi; komennya Mitla sih, “(lu)mayan.”
But, the matcha latte got me into something interesting.
Menurut saya matcha lattenya encer. Yes, encer. Tapi nggak kehilangan tastenya.
Rasanya tetep autentik matcha (or green tea), yang nggak manis, yang punya kelas, yang rasanya tetap kental dalam minuman encer. Quite nice.

Outdoor space di lantai 2

Overall tempat ini menyenangkan, punya minuman ok, lokasi strategis, interior yang cantik, dan harganya nggak mahal.


Hal lain yang saya suka adalah: toiletnya bersih. Hahaha.
Entah kenapa tempat-tempat dengan kualitas toilet bersih dan menyenangakan selalu jadi poin plus buat saya. Simple sih, dari situ, at least, kita bisa tau bagaimana mereka memperlakukan makanan dan minuman kita.

Lawang Sewu
Kenapa ke Lawang Sewu?
Karena belum ke Semarang kalo belum ke Lawang Sewu.
Yaudah, yuk.

Saya nggak cerita panjang soal Lawang Sewu ya; googling aja, sejarahnya lengkap.
Tiket masuk per orang cukup murah, Rp 10.000,- saja. Satu-satunya yang bikin saya amazed adalah kaca bermotif segede gaban yang ada di dalam gedung.

Dear future husband, someday kita punya rumah besar, aku mau tembok berkaca sebagus ini.

Leker PAIMO
Segera setelah project siang kami di Semarang selesai, saya dan beberapa teman lanjut cari cemilan ke Leker Paimo. Leker Paimo punya 2 lokasi, di depan SMA Kolese Loyola Jl. Karang Anyar dan di Jl. Ki Mangunsarkoro (di dekat Klenteng Tri Noto Buko Buwono).
Apa bedanya? Yang nugas di Ki Mangunsarkoro adalah Paimo dan di depan Kolese Loyola adalah Paimi, istrinya Paimo. Udah itu aja, selebihnya sama.

Kalo aku jadi Paimo, kamu jadi apa?
Paimi.

“Makan sini tak bikinin yang paling enak.”
“Apa bedanya?”
“Oooo rahasia.”

Master of Leker 

I tell you the secret:
Leker paling enak dimakan waktu panas. Setelah dibungkus dan didiamkan beberapa waktu, jadi biasa aja. Emang udah paling bener makan leker langsung di tempat aja.

Harga leker paimo bervariasi mulai Rp 4,000- sampai Rp 20,000,-an tergantung isi leker.

Toko Oen
Because there’s always room for ice cream.
Selain di Malang, Toko Oen juga ada di Semarang.


   
Nama tokonya agak ngumpet

Yang bikin Toko Oen menarik adalah nama legendarisnya. Karena saya nggak terlalu peka sama ice cream, jadi ya, rasa ice creamnya kayak ... ice cream.

Loenpia Mbak Lien
Berhubung lunpia (atau lumpia) ini ada di dekat Toko Oen, dan berhubung ‘nggak ke Semarang kalo nggak makan Lumpia’, jadi yaudah mampirin aja.

Karakteristik lumpia Semarang adalah rasanya manis. Kalo nggak suka atau nggak terlalu suka manis, belinya jangan banyak-banyak.

Jalan di Semarang sore itu ditutup dengan belanja Bandeng Juwana. Berhubung kami adalah manusia yang penuh dengan ke-BM-an, dari Semarang kami langsung lanjut ke Magelang untuk besok pagi-pagi sekali kejar sunrise di Borobudur (read this: BorobudurSunrise) dan main di Jogja sebelum pulang ke Jakarta sore hari.

Viani, itu itinerary 75% isinya makanan.
Ya kalo jalan harus adil; jiwamu butuh nutrisi, badanmu juga, karena pura-pura bahagia itu butuh banyak tenaga.
LOL! Why so serious?!

Selamat jalan-jalan, yah! ;)

Semarang Short Trip

by on March 16, 2018
Kalo punya waktu main di Semarang satu hari aja, bisa ngapain? Punya slot waktu dan area main yang terbatas itu kadang greget banget. ...

My Blog List